Tampilkan postingan dengan label Konstruksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konstruksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2020

7 Jenis Konstruksi Jembatan di Dunia

Jenis Konstruksi Jembatan - Jembatan merupakan sebuah bangunan konstruksi yang menghubungkan dua buah tempat yang terpisah baik oleh sungai, jurang maupun celah lainnya. Tahapan pembuatan jembatan sendiri kini sudah semakin canggih dengan berbagai jenis konstruksinya yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Jenis Konstruksi Jembatan

Konstruksi jembatan umumnya juga bersambung dengan jalan yang akan dilalui kendaraan, baik itu jalan aspal maupun jalan beton. Bahkan kini jembatan juga tidak hanya dibuat untuk menghubungkan 2 tempat yang dipisahkan sungai, namun juga yang terpisah oleh laut. Di Indonesia sendiri jembatan sudah ada jembatan suramadu yang melintasi selat madura.

Secara umum, ada 7 jenis konstruksi jembatan yang ada di seluruh dunia. Berikut adalah jenis konstruksi jembatan tersebut :

Jenis Konstruksi Jembatan

1. Jembatan lengkung (arch bridge)

Jenis konstruksi jembatan yang pertama adalah jembatan lengkung, jenis ini mempunyai kemampuan yang sangat tinggi terhadap respon momen lengkung. Kedua ujung jenis jembatan ini adalah berupa sendi yang baik untuk meredam gaya dengan arah horisontal. Jenis jembatan ini hanya bisa dibuat di atas tanah yang mempunyai struktur keras dan stabil dengan bentangnya antara 100 - 300 meter.

2. Jembatan gelagar (beam bridge)

Jembatan gelagar mempunyai satu gelagar tunggal yang dibuat dari beton maupun beton prategang yang dirangkai menggunakan diafragma. Jenis jembatan ini biasanya dibuat menyatu dengan pelat jalan secara kaku. Jenis jembatan ini umumnya hanya membentang sepanjang 5 - 40 meter.

3. Jembatan Kabel (cable-stayed)

Sama seperti namanya, jembatan ini memakai kabel sebagai elemen untuk menahan beban baik jembatan maupun kendaraan yang melintas. Kebel ini nantinya akan ditumpukan pada tower, tower inilah yang nantinya akan meneruskan beban yang diterima oleh kabel. Jenis jembatan ini baik diterapkan pada tempat dengan tingkat rawan terjadi gempa karena titik pusat massanya yang relatif lebih rendah. Umumnya jembatan ini membentang sepanjang 100 - 600 meter.

4. Jembatan gantung (suspension bridge)

Sama halnya dengan jembatan kabel, jembatan gantung juga menggunakan kabel untuk menahan beban. Pada jembatan ini menggunakan sebuah kabel utama yang akan memikul beban dari beberapa kabel gantung. Namun beban lalu lintas pada jenis jembatan ini tidak dibebankan pada tower atau pilar karena sudah dibebankan pada kabel.

Akan tetapi bila angin yang bertiup pada jenis jembatan ini intensitasnya terlalu tinggi maka lalu lintas pada jembatan ini akan ditutup. Hal ini dilakukan demi keselamatan pengendara karena akan sulit mengendarai kendaraan pada jembatan yang bergoyang. Jembatan gantung terpanjang yang pernah dibuat mencapai panjang 1.400 meter.

5. Jembatan Beton Prategang (prestressed concrete bridge)

Jenis jembatan ini merupakan pengembangan dari penggunaan bahan beton dimana jembatan bideri gaya prategang awal, tujuannya adalah untuk mengimbangi tegangan yang muncul karena adanya beban. Jenis jembatan ini umumnya hanya membentang sepanjang 20 - 40 meter. Ada dua sistem yang biasanya digunakan pada jenis jembatan ini yaitu post tensioning dan pre tensioning.
  • Sistem post tensioning
Pada sistem ini tendon prategang ditempatkan di dalam duct apabila beton sudah mengeras. Sedangkan untuk transfer gaya prategang dari tendon pada beton dilakukan dengan penjangkaran pada ujung gelagar.
  • Sistem pre tensioning
Pada sistem ini beton akan dituang mengelilingi tendon prategang, namun disini tendon sudah ditegangkan terlebih dahulu. Selain itu transfer gaya prategang ada karena disebabkan oleh ikatan antara beton dengan tendon.

6. Jembatan rangka (truss bridge)

Jembatan rangka umumnya mempunyai bentuk dasar berbentuk segitiga yang dibuat dari baja. Jenis konstruksi jembatan ini merupakan jenis tertua yang sudah lama digunakan dengan berbagai variasi bentuk, gelagar dan lengkung atau kantilever. Umumnya jembatan ini mempunyai panjang bentang antara 50 - 100 meter.

7. Jembatan box girder

Jenis jembatan yang terakhir ini biasanya terbuat dari baja atau beton konvensional maupun prategang. Gelagar jembatan ini menggunakan box girder yang bisa dikombinasikan menggunakan sistem jembatan gantung, pelengkung maupun cable-staved. Box girder ini bermanfaat sebagai momen inersia yang tinggi dengan kombinasi berat yang relatif ringan karena rongga pada tengah penampang. Box girder ini dapat dibuat dalam berbagai bentuk, jenis jembatan ini umumnya membentang sepanjang 20 - 40 meter.

Kamis, 02 April 2020

Tahapan Pembuatan Basement

Tahapan Pembuatan Basement - Bangunan bertingkat atau gedung pasti mempunyai basement pada bagian dasarnya. Konsep pembuatan basement pada tiap gedung pastinya berbeda-beda, tergantung untuk apa basement itu digunakan nantinya. Namun, apapun konsep dan desain pembuatan basement, tentunya harus memperhatikan struktur tanah dan juga pondasi bangunannya.

Tahapan Pembuatan Basement
Sumber : Distributor Alat Ukur & Alat Uji
Biasanya area bawah tanah atau basement dijadikan sebagai ruang tambahan untuk parkir, food court, gudang barang dan lainnya. Basement terletak di bawah tanah, sehingga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap pondasi bangunan saat terjadi masalah. Berikut ini merupakan beberapa tahapan pengerjaan yang harus dilakukan dalam pembuatan basement, diantaranya yaitu :

Tahapan Pembuatan Basement

1. Menggali tanah dasar

Tahap pertama yang harus dilakukan yaitu dengan menggali tanah pada lokasi yang akan dibangun basement. Penggalian ini dilakukan hingga mencapai kedalaman yang sudah ditentukan pada rancangan atau rencana pembangunan. Penggalian ini biasanya menggunakan excavator atau beko supaya lebih cepat, sedangkan pasir galian akan diangkut menggunakan truk pasir.

2. Proses dewatering

Setelah tanah digali, selanjutnya yaitu mengeringkan tanah supaya dapat dijadikan alas untuk pondasi bangunan. Sebelum melakukan dewatering, harus diperiksa terlebih dahulu kandungan air yang ada di dalam tanah pada setiap lapisannya, proses ini menggunakan alat yang disebut piezometer.

3. Pemasangan pondasi

Apabila tanah sudah dikeringkan, selanjutnya yaitu memasang pondasi yang berfungsi untuk menahan beban atas bangunan. Sistem pemasangan pondasi ini biasanya dilakukan dengan cara pemancangan.

4. Pembobokan beton tulang

Setelah pondasi dipasang, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan beton tulang. Namun, agar tingginya sama rata maka beton harus dibobok secara manual.

5. Membuat dinding dan lantai basement

Tahap selanjutnya yaitu membuat bagian lantai dan dinding dengan melakukan pengecoran. Pastikan tidak ada keretakan dan kebocoran pada bagian yang sudah dicor.

6. Finishing

Setelah tahap pengecoran selesai, tahap terakhir yaitu dengan melakukan instalasi listrik serta pemasangan pipa saluran air. Setelah basement selesai dibangun bukan berarti dapat langsung dioperasikan. Basement tersebut harus melewati uji kelayakan terlebih dahulu, biasanya menggunakan uji beban atau load test.

Rabu, 27 November 2019

Lapisan Pelindung Beton

Lapisan Pelindung Beton - Apakah Anda pernah mendengar tentang Floor Hardener? Floor Hardener atau yang dikenal sebagai Penguat Lapisan Beton merupakan bahan berbentuk bubuk campuran yang ditaburkan ke atas beton segar yang akan kering bersamaan dengan beton.

Lapisan Pelindung Beton
Sumber : Alat Uji Kekerasan
Setelah itu bahan ini akan membentuk lapisan tipis yang keras, padat, menyatu dengan beton serta memiliki ketahanan sangat baik terhadap gesekan dan tumbukan dari lalu lintas kendaraan di atasnya. Bahan ini biasa digunakan sebagai lapisan pelindung pada struktur beton yang banyak dilalui oleh kendaraan seperti gudang, ruang produksi, gedung parkir, ruang mekanik, garasi, ruang pamer kendaraan, bengkel dan lain sebagainya.

Lapisan Pelindung Beton

Floor Hardener dibuat menggunakan semen, pasir silika (silica quartz) kering yang telah dipilih dan di gradasi dengan baik, plasticiser bubuk untuk mengganti peranan air, pigmen warna bubuk serta bahan kimia tambahan lain dalam bentuk bubuk.

Keunggulan Floor Hardener
  • Monolit dengan beton, tidak seperti bahan penutup lantai lainnya yang direkatkan dengan perekat tambahan, tidak menjadi satu bagian atau kerap kali terlepas dari beton
  • Ketahanan yang tinggi terhadap gesekan dari kendaraan, mulai dari ringan hingga berat dan tumbukan akibat jatuhnya barang dari ketinggian tertentu
  • Dengan kecepatan dan kapasitas pengerjaan yang tinggi, tidak membutuhkan banyak nat joint sehingga dapat mengurangi tempat berkumpulnya kotoran dan jamur yang umumnya menumpuk pada celah
  • Diproses dengan pengaduk berkapasitas besar sehingga memungkinkan keseragaman kualitas bahan dan warna
  • Jika dikerjakan dengan alat dan metode yang tepat maka akan menghasilkan permukaan keras, rata dan halus sehingga siap untuk pemakaian bangunan dengan presisi tinggi
  • Tidak menimbulkan bercak akibat karat
Pemasangan

Syarat Material Lantai Dasar

Lantai dasar yang akan dilapisi dengan Floor Hardener sebaiknya adalah beton dengan syarat :
  • Kuat tekan 28 hari minimal 225 kg/cm²
  • Tebal minimal 7,5 cm dengan tulangan wiremesh paling sedikit 1 lapis diganjal dengan beton decking dengan ketinggian 2 sampai 3 centimeter dari lantai kerja
  • Usahakan slump beton dibuat sekecil mungkin, ketika beton siap dituang usahakan tebalnya tidak lebih dari 10 cm
  • Hanya pada situasi sangat terpaksa dimana pengerjaan dengan kemerosotan rendah tidak memungkinkan, umumnya lahan terbuka tanpa atap dan cuaca sangat terik, slump diijinkan dinaikkan hingga 12 cm
  • Jika tebal beton sangat ekstrim lebih dari 20 cm, umumnya menjadi satu dengan pondasi rakit / raft foundation, perlu diperhatikan sistem penurunan panas hidrasi yang dapat memadai, misalnya dengan nitrogen cair, balok es ataupun metode lain yang diketahui dan disetujui konsultan pengawas

Selasa, 13 Agustus 2019

Perbedaan Struktur Beton dan Baja

Perbedaan Struktur Beton dan Baja - Dalam membuat sebuah bangunan maka diperlukan suatu struktur yang kuat untuk menahan beban baik beban bangunan itu sendiri maupun beban yang telah diperkirakan. Struktur yang biasa kita kenal mungkin adalah jenis struktur beton, namun belakangan juga muncul jenis struktur baru yaitu struktur baja.

Perbedaan Struktur Beton dan Baja
Sumber : alat ukur ketebalan ultrasonik
Namun di Indonesia yang jauh lebih populer adalah jenis konstruksi beton karena banyak digunakan, berbeda dengan struktur baja yang baru populer belakangan ini. Kedua jenis konstruksi tersebut tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing - masing.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah kelebihan dan kekurangan struktur baja dan struktur beton :

Perbedaan Struktur Beton dan Baja

Kelebihan struktur beton :

  • Kuat dalam menerima gaya tekan, oleh karena itu untuk struktur beton pengujiannya adalah kuat tekan bukan kuat tarik
  • Material beton bersifat tahan terhadap korosi / karat dan juga tahan terhadap pembusukan
  • Struktur beton segar mudah dicetak sesuai keinginan dan cetakannya juga dapat dipakai lebih dari sekali bergantung dari kualitas cetakan yang akan dibuat
  • Apabila ada kerusakan maka dapat dengan mudah diperbaiki, beton segar dapat disemprotkan pada permukaan beton lama yang retak atau diisikan pada beton dalam proses perbaikan
  • Beton segar dapat dipompa sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat - tempat yang sulit seperti tempat tinggi (bangunan high risk) dimana kekuatan dorong pompa terbatas, oleh karenanya untuk penggantinya sering digunakan crane
  • Mempunyai ketahanan yang baik terhadap api atau suhu tinggi

Kekurangan Struktur Beton :

  • Struktur beton dianggap tidak mampu menahan gaya tarik sehingga mudah retak, karenanya untuk menahan gaya tarik diberikanlah tulangan baja
  • Sifat mengembang atau menyusut masih dimiliki oleh struktur beton keras apabila terjadi perubahan suhu, karenanya diperlukan pembuatan dilatasi untuk mencegah terbentuknya retakan - retakan
  • Untuk mendapatkan beton kedap air yang sempurna, maka harus ditambahkan bahan tambahan waterproofing dan juga dikerjakan dengan sangat teliti
  • Struktur beton bersifat getas (tidak daktail), karenanya harus dilakukan perhitungan dengan teliti agar setelah dikompositkan dengan baja maka tulangan akan bersifat daktail terlebih untuk struktur bangunan tahan gempa

Kelebihan Struktur Baja :

  • Material baja mempunyai kuat tarik tinggi, sehingga pengujian yang dilakukan adalah uji tarik bukan uji tekan
  • Struktur baja tidak akan dimakan rayap dan aman terhadap serangan hewan pemakan seperti rayap
  • Hampir tidak memiliki perbedaan nilai muai dan susut
  • Bisa di daur ulang jika bangunan dibongkar sehingga struktur baja sering digunakan untuk bangunan semi permanen
  • Pekerjaan pembuatan tulangan baja dapat karena struktur baja dibuat di workshop yang dapat dilakukan bersamaan dengan pengerjaan pondasi dan dirakit di lapangan
  • Bagus untuk diekspos karena struktur baja memiliki nilai estetika yang cukup tinggi

Kekurangan Struktur Baja :

  • Dapat mengalami korosi, namun kekurangan ini dapat diatasi dengan melapisi struktur baja dengan cat sehingga lebih tahan karat
  • Lemah terhadap gaya tekan, terutama pada kolom dan batang tekan karena pada umumnya struktur baja elemennya tipis dan rawan terhadap gaya tekan, karenanya baja ini lebih tepat digunakan sebagai elemen tarik
  • Tidak tahan api, namun kelemahan ini dapat diatasi dengan memberi perlindungan tahan api yang tentunya membutuhkan biaya tambahan

Senin, 10 Juni 2019

Konstruksi Atap Stadion Gelora Bung Karno

Konstruksi Atap Stadion Gelora Bung Karno - Siapa yang tidak tahu stadion olahraga Gelora Bung Karno? Selain menjadi stadion olahraga terbesar, ternyata stadion ini mempunyai keunikan yang menonjol dari segi bangunannya bangunan.


Salah satu keunikan dari stadion gelora bung karno ini memiliki konstruksi atap model temu gelang yang pemasangan pertama konstruksi atap tersebut dimulai tanggal 26 agustus 1961. Konstruksi unik atap stadion ini dibuat menggunakan bahan kerangka baja. Kerangka ini menjadi penutup untuk seluruh tempat duduk yang mengelilingi tanah lapang di pusat stadion.

Berat atap baja ini secara keseluruhan tidak kurang dari 5.000 ton yang terdiri dari 96 kapstan. Kapstan ini masing - masing memiliki panjang 66 meter dimana setiap kapstan terbagi atas lima bagian. Jadi total keseluruhan bagian pada atap ini mempunyai 480 bagian.

Seluruh bagian tersebut dibuat menyambung menjadi satu sehingga bisa mempunyai bentuk oval (bulat telur) dan semua sambungan dikerjakan dengan las tanpa menggunakan baut pengikat. Kemudian sebanyak 96 pasang tiang yang memikul konstruksi atap ini dan menjadi keunikannya tersendiri. Keunikan konstruksi atap stadion ini bila Anda melihatnya dari bawah maka akan terlihat tiang pemikul yang menonjol keluar stadion sekitar 18 meter serta menonjol kedalam sepanjang 48 meter.

Besi baja martin no 3 digunakan sebagai bahan konstruksi atap stadion ini. Baja khusus tersebut dipesan dan didatangkan secara khusus dari Uni Soviet dalam bentuk panil - panil dan batang - batang panjang. Baja tersebut merupakan jenis baja yang kuat dengan tingkat kekerasan yang dapat mencapai 7 skala mohs atau lebih bila Anda mengukurnya menggunakan alat uji NDT seperti halnya alat ukur kekerasan / hardness tester.

Konstruksi atap model temu gelang ini mempunyai keliling bagian luar mencapai satu kilometer. Apabila seluruh baja untuk atap stadion ini disambung atau dilas memanjang maka akan mempunyai panjang yang tidak kurang dari 70 km.

Bila Anda melihatnya dari jauh maka akan terlihat dudukan bagian atap stadion tersebut seperti miring ke arah luar bila dilihat secara sepintas karena bagian tersebut memang dibuat agak miring. Selain miring, atap juga memang dibuat menurun keluar dari stadion agar air hujan nantinya jatuh keluar stadion. Atap stadion sendiri di bagian dalamnya memiliki ketinggian sekitar 35 meter sedangkan pada bagian luarnya sekitar 30 meter.

Keistimewaan Stadion ini adalah konstruksi cantilever sepanjang 48 meter. Dengan demikian berarti, bagian konstruksi yang menonjol ke arah bagian dalam stadion, sama sekali tidak menggunakan bantuan tiang penopang. Konstruksi semacam itu, yang baru pertama kalinya dicoba di Indonesia pada sebuah bangunan raksasa, sanggup tampil dengan sangat mengagumkan dan telah bertahan selama puluhan tahun. Apalagi jika diingat, pekerjaan teknis ketika membangun stadion tersebut dilakukan pada awal tahun 60-an, dengan tingkat berikut peralatan teknis, yang pada masa itu masih sangat terbatas.